^Back To Top
foto1 foto2 foto3

Follow Me :

FacebookTwitterLinkedIn

LEADER ARE READER

Berdasarkan studi dari “Most Littered Nation in The World”, yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei dalam hal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand, urutan 59, dan di atas Bostwana, urutan 61. Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung minat baca peringkat Indonesia berada di atas beberapa negara Eropa. Berdasarkan komponen tersebut, Indonesia berada di urutan 34, di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru, dan Korea Selatan. Dengan kata lain, masyarakat Indonesia masih minim memanfaatkan infrastruktur untuk membaca.

Ironis dan sayang sekali membaca survey di atas.

Memang, kalau kita berada di beberapa negara, seperti Singapura, Hongkong, Jepang, Italia, Perancis, atau negara-negara Eropa yang lain, kebiasaaan membaca sudah dimiliki oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa, bahkan orang tua. Lazim sekali ditemui, mereka sedang membaca sambil mengantri di restorang, atau membaca sambil menunggu public transportation, ataupun kegiatan lainnya. Seolah-olah, membaca selalu menjadi menu wajib bagi mereka.

Padahal, seperti yang Anda tahu, semua tokoh-tokoh dunia dan pemimpin berbagai bangsa, adalah orang-orang yang gila baca. Mereka mempunyai kebiasaan yang hebat dalam membaca. Kebiasaan itu, pada akhirnya menyiapkan mereka untuk menjadi leader yang hebat di masa depan.

Thomas Alva Edison, penemu lampu bohlam yang dijuluki “Penyihir dari Menlo Park”, tercatat sebagai pemegang hak paten terbanyak sepanjang sejarah peradaban manusia. Diceritakan bahwa dalam dua minggu sekali, sepanjang karirnya, Edison mematenkan penemuan barunya.

Saat masih kecil, Edison dianggap mempunyai masalah dengan perkembangan intelektual dan sosialnya. Guru-gurunya menilainya sebagai murid yang bermasalah, yang tidak dapat menangkap pelajaran. Ternyata, pandangan tersebut tidak benar. Pemikiran Edison melampaui pemikiran teman-temannya yang lain. Edison mempunyai jiwa penasaran yang tinggi. Dan jiwa penasaran tersebut tersalurkan lewat kegemarannya membaca buku. Edison membaca buku-buku karya Charles Dickens, William Shakespeare, Edward Gibbon, dan buku-buku kimia serta ilmu pengetahuan alam.

Abraham Lincoln, salah satu presiden yang dikenang jasanya dalam menghapus perbudakan di Amerika,  lahir dalam keluarga ekonomi kelas bawah. Meskipun demikian, Lincoln belajar secara otodidak dan berhasil sebagai pengacara di Illinois. Dia pun berhasil menjadi pemimpin partai, anggota legislatif daerah, dan akhirnya presiden.

Lincoln merupakan penggemar berat buku. Buku-buku yang dia sukai adalah buku yang berhubungan dengan hal-hal politik seperti karya David R. Locke, Robert H. Newell, dan puisi-puisi karya Edgar Allan Poe serta Robert Burns. Ashley Wagoner, dalam artikel “A President ‘s Reading List” menjelaskan pengaruh hobi membaca Lincoln pada kesuksesan Abraham Lincoln : “Kegemaran Lincoln dalam membaca membantunya menjadi pemimpin besar. Membaca membantu Presiden Lincoln membuat keputusan-keputusan penting selama terjadinya Perang Saudara. Sebagai contoh, ketika Lincoln bernegosiasi dengan jendral-jendral Union, yang sering kali tidak memberikan petunjuk dan solusi, dia senantiasa pergi ke Perpustakaan Konggres dan membaca buku yang membahas strategi militer.... pengetahuan Lincoln tentang karya-karya Shakespeare dan teater memberikan pengetahuan mengenai aspek psikis manusia.... Pengetahuan ini menjadikan Lincoln politikus yang sukses dan mengesankan....”

Kyai Haji Haji Agus Salim, salah satu pemimpin di masa kemerdekaan yang dijuluki  “The Grand Old Man” oleh Bung Karno, adalah diplomat ulung yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Kemahirannya berpidato dan berdebat, sekaligus menguasai 9 bahasa asing, membuatnya dikenal sebagai “Singa Podium” yang lihai dalam berdiplomasi.

Pada 1930, Agus Salim menghadiri konferensi ILO ( International Labour Organization ) di Swiss. Saat akan berpidato dan menaiki podium, hampir semua wakil-wakil Eropa meremehkan dan mengejeknya. Apalagi melihat perawakan Agus Salim yang sederhana, dengan kopiah dan janggutnya. Agus Salim tidak menghiraukannya.

Dia berdiri tegak. Dan mulai berbicara. Paragraf pertama pidatonya, dia sampaikan dalam bahasa Belanda. Paragraf kedua, dia sampaikan dalam bahasa Inggris. Paragraf ketiga, dengan bahasa Jerman, dan paragraf keempat, dalam bahasa Perancis !

Semua pendengar terkejut. Agus Salim berbicara lantang tentang kekejian kolonial di forum internasional dalam 4 bahasa sekaligus. Efek dari pidatonya, AS dan beberapa negara Eropa tidak mau lagi membeli hasil kebun Hindia Belanda dari hasil tanam paksa. Ekonomi Belanda menjadi terpuruk, dan Indonesia menjajaki perjuangan kemerdekaan.

Sepanjang hidupnya, Agus Salim memang banyak sekali menulis, sekaligus membaca buku-buku asing. Kebiasaan, yang sangat membantunya menjadi diplomat yang handal.

Salah satu proklamator Indonesia, Bung Hatta, juga seorang pembaca dan pembelajar yang hebat. Ketika berulang kali dipenjara oleh pemerintah kolonial Belanda, Hatta menghabiskan waktu sepenuhnya untuk membaca. Tahun 1934, saat dirinya akan dibuang ke Boven-Digul, Papua, Hatta meminta petugas penjara mengundurkan waktu pemindahannya. Dia hendak mengepak terlebih dahulu buku-bukunya sebagai “teman di penjara”. Buku-buku yang dibawanya mencapai 16 peti.

Hatta memang seorang pembaca tulen. Buku-buku yang dipunyainya sangat banyak. Hatta mempunyai koleksi buku berjumlah 13.000 buah !

Bung Karno, sahabat dan pasangan proklamatornya, pernah berseloroh : Bila Bung Hatta sedang berada di angkutan umum, dan ada seorang penumpang cantik di dalamnya, dan mereka hanya berdua saja di dalam angkutan itu, apa yang akan dilakukan Bung Hatta ? Bung Hatta akan membaca buku !

Bill Gates, founder Microsoft dan salah satu orang terkaya di dunia, juga seorang kutu buku. Di usia 10 tahun, Bill Gates sudah membaca habis “World Book Encyclopedia” dari seri pertama hingga seri terakhir. Ayahnya senantiasa menyediakan banyak buku dan bacaan saat Gates masih kecil.

Menyadari pentingnya terus membaca, menambah wawasan, membuka cakrawala yang baru, bagi setiap orang, lebih-lebih mereka yang ingin menjadi pemimpin sejati dalam hidupnya, Steve Jobs berujar, “Stay hungry, stay foolish”. Tetaplah lapar, tetaplah bodoh.

Tetaplah lapar akan ilmu dan hal-hal yang baru, dan tetaplah “merasa bodoh” untuk dapat menerima hal-hal baru dalam hidup ini !

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013. Indra Dewanto Rights Reserved.